Menu

Dark Mode
Wagub Sulbar Kunjungi Arif, Remaja Kalukku yang Berjuang Melawan Tumor Suhardi Duka Apresiasi Loyalitas Karyawan pada HUT ke-14 RS Mitra Manakarra UPTD TBM Sulbar angkat kekayaan musik tradisi lewat Mandar Ethno Music Concert Sekda Junda Maulana: Pergub Pastipadu Jadi Pegangan agar Program Tak Berjalan Parsial Sekda Sulbar Pimpin Rapat Koordinasi Pelaksanaan Program BSPS, 5.250 Unit Rumah Siap Disalurkan Sulbar Jadi Tuan Rumah Liga Sepak Takraw Regional Sulawesi, SDK Dorong Kebangkitan Prestasi Sekda Junda di Pawai Ta’aruf Mamuju: Hijrah dari Kelalaian ke Ketaatan, dari Saling Menyalahkan ke Saling Menguatkan

Daerah

SUARA BUDAYAWAN MANDAR: JANGAN LUPAKAN NILAI PANCASILA DI TENGAH ARUS MODERNITAS

badge-check


					SUARA BUDAYAWAN MANDAR: JANGAN LUPAKAN NILAI PANCASILA DI TENGAH ARUS MODERNITAS Perbesar

Pancasila dalam perspektif kebudayaan saat ini memiliki tantangan besar akibat gelombang kemajuan dan transformasi dunia yang begitu cepat.

Sebagai ideologi yang lahir di tengah-tengah masyarakat Indonesia, kedudukannya sangat amat penting diterjemahkan dan dipraktekkan dalam kehidupan berbudaya.

Lahirnya pancasila tak menampik bahwa ia adalah sesuatu yang final yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat.

Menurut pandangan tokoh masyarakat dan budayawan Polman, Muhammad Syariat Tajuddin, mengatakan, Pancasila sebagai falsafah hidup masyarakat Indonesia lahir di tengah-tengah masyarakat yang tak terpisahkan.

“Karenanya dia adalah ideologi yang final dan lahir di tataran Nusantara, sangat mustahil untuk dipisahkan dengan masyarakat hari ini,” terang Muhammad Syariat Tajuddin.

Kendati begitu, karena Pancasila tumbuh dalam kehidupan masyarakat, akan tetapi terjadi satu pergeseran yang harus dihadapi oleh masyarakat itu sendiri.

“Karena lahirnya ideologi-ideologi baru dengan kecepatan perkembangan zaman, maka kedudukannya sedikit terlupakan”.

“Penyebab karena maraknya industrialisasi, kapitalisasi, globalisasi dengan transformasi budaya begitu kencang, membuat kita menjadi kelimpungan,” tegas Syariat.

Fenomena itu menurut Syariat seolah masyarakat terpisahkan dari akar kebudayaannya sendiri. Olehnya itu, dia meminta dan menghimbau agar kedudukan Pancasila sebagai sentral nilai harus dikembalikan kepada posisi awalnya.

Olehnya itu, Ia berharap penuh agar pemerintah terus menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dengan terbentuknya Kementerian Kebudayaan sebagai wadah persatuan, terlebih kembali mempertegas kebudayaan masyarakat Indonesia dengan ideologi Pancasila.

“Hadirnya Kementerian KebudayaN adalah sejarah baru di pemerintahan ini, dengan begitu, ini merupakan momen penting untuk kembali
Memikirkan, memposisikan diri sebagai masyarakat yang berbudaya dengan Pancasila sebagai pedoman hidup bermasyarakat,” tutup Syariat Tajuddin.*

Facebook Comments Box

Read More

Suhardi Duka Apresiasi Loyalitas Karyawan pada HUT ke-14 RS Mitra Manakarra

10 July 2026 - 00:59 WIT

UPTD TBM Sulbar angkat kekayaan musik tradisi lewat Mandar Ethno Music Concert

10 July 2026 - 00:46 WIT

Sekda Junda Maulana: Pergub Pastipadu Jadi Pegangan agar Program Tak Berjalan Parsial

8 July 2026 - 13:53 WIT

Sekda Sulbar Pimpin Rapat Koordinasi Pelaksanaan Program BSPS, 5.250 Unit Rumah Siap Disalurkan

8 July 2026 - 13:51 WIT

Sulbar Jadi Tuan Rumah Liga Sepak Takraw Regional Sulawesi, SDK Dorong Kebangkitan Prestasi

8 July 2026 - 13:48 WIT

Trending on Advertorial