Menu ✖

Dark Mode
Wagub Sulbar Kunjungi Arif, Remaja Kalukku yang Berjuang Melawan Tumor Gubernur Suhardi Duka Harap Media Siber Bantu Masyarakat Pilah Informasi dan Tangkal Hoaks Gubernur Suhardi Duka Terima Manager PLN UP2K Sulbar, Bahas Percepatan Lisdes dan Peningkatan Elektrifikasi Sulbar Pemprov Sulbar Launching SIPAINGARANG, Kerja Humas OPD Kini Tak Sekadar Posting Berita HMI Mamuju Demo SPBU Simbuang, Soroti Dugaan Penyalahgunaan Solar Subsidi 232 Pejabat Polman Dimutasi, Bupati Samsul: Jangan Hanya Duduk di Kursi Dingin Junda Maulana Uji Calon Dekan Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unsulbar dengan Isu Hilirisasi hingga Deforestasi

Daerah

SUARA BUDAYAWAN MANDAR: JANGAN LUPAKAN NILAI PANCASILA DI TENGAH ARUS MODERNITAS

badge-check


					SUARA BUDAYAWAN MANDAR: JANGAN LUPAKAN NILAI PANCASILA DI TENGAH ARUS MODERNITAS Perbesar

Pancasila dalam perspektif kebudayaan saat ini memiliki tantangan besar akibat gelombang kemajuan dan transformasi dunia yang begitu cepat.

Example 728x250

Sebagai ideologi yang lahir di tengah-tengah masyarakat Indonesia, kedudukannya sangat amat penting diterjemahkan dan dipraktekkan dalam kehidupan berbudaya.

Lahirnya pancasila tak menampik bahwa ia adalah sesuatu yang final yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat.

Menurut pandangan tokoh masyarakat dan budayawan Polman, Muhammad Syariat Tajuddin, mengatakan, Pancasila sebagai falsafah hidup masyarakat Indonesia lahir di tengah-tengah masyarakat yang tak terpisahkan.

“Karenanya dia adalah ideologi yang final dan lahir di tataran Nusantara, sangat mustahil untuk dipisahkan dengan masyarakat hari ini,” terang Muhammad Syariat Tajuddin.

Kendati begitu, karena Pancasila tumbuh dalam kehidupan masyarakat, akan tetapi terjadi satu pergeseran yang harus dihadapi oleh masyarakat itu sendiri.

“Karena lahirnya ideologi-ideologi baru dengan kecepatan perkembangan zaman, maka kedudukannya sedikit terlupakan”.

“Penyebab karena maraknya industrialisasi, kapitalisasi, globalisasi dengan transformasi budaya begitu kencang, membuat kita menjadi kelimpungan,” tegas Syariat.

Fenomena itu menurut Syariat seolah masyarakat terpisahkan dari akar kebudayaannya sendiri. Olehnya itu, dia meminta dan menghimbau agar kedudukan Pancasila sebagai sentral nilai harus dikembalikan kepada posisi awalnya.

Olehnya itu, Ia berharap penuh agar pemerintah terus menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dengan terbentuknya Kementerian Kebudayaan sebagai wadah persatuan, terlebih kembali mempertegas kebudayaan masyarakat Indonesia dengan ideologi Pancasila.

“Hadirnya Kementerian KebudayaN adalah sejarah baru di pemerintahan ini, dengan begitu, ini merupakan momen penting untuk kembali
Memikirkan, memposisikan diri sebagai masyarakat yang berbudaya dengan Pancasila sebagai pedoman hidup bermasyarakat,” tutup Syariat Tajuddin.*

Facebook Comments Box

Read More

Gubernur Suhardi Duka Harap Media Siber Bantu Masyarakat Pilah Informasi dan Tangkal Hoaks

9 October 2026 - 09:18 WIT

Gubernur Suhardi Duka Terima Manager PLN UP2K Sulbar, Bahas Percepatan Lisdes dan Peningkatan Elektrifikasi Sulbar

9 October 2026 - 09:13 WIT

Pemprov Sulbar Launching SIPAINGARANG, Kerja Humas OPD Kini Tak Sekadar Posting Berita

9 October 2026 - 06:03 WIT

HMI Mamuju Demo SPBU Simbuang, Soroti Dugaan Penyalahgunaan Solar Subsidi

8 October 2026 - 21:17 WIT

232 Pejabat Polman Dimutasi, Bupati Samsul: Jangan Hanya Duduk di Kursi Dingin

8 October 2026 - 10:12 WIT

Trending on Advertorial