Menu

Dark Mode
Wagub Sulbar Kunjungi Arif, Remaja Kalukku yang Berjuang Melawan Tumor Sekprov Junda Maulana Buka Pelatihan, Sulbar Bersiap Terapkan Katalog Versi 6 Kafilah MTQ KORPRI Sulbar Siap Berlaga di Makassar, Enam ASN Wakili Enam Cabang Gubernur Sulbar Apresiasi Penampilan Paskibraka, Penghargaan Diarahkan untuk Penguatan Wawasan Kebangsaan Berkah HUT RI ke-81, Bupati Polman Resmikan Rumah Nahni yang Dibedah dalam 14 Hari Bupati Polman Serahkan Bantuan ATENSI Rp2,4 Juta kepada Penyandang Disabilitas yang Hidup Seorang Diri Upacara HUT RI ke-79 di Sulbar, Gubernur Suhardi Duka Kenakan Putih-Putih dan Dihadiri Perwakilan 14 Kerajaan

Daerah

Festival Seni Boyang Kayyang Hidupkan Ruang Publik, Kolaborasi Seni dan UMKM Perkuat IPK Sulbar

badge-check


					Festival Seni Boyang Kayyang Hidupkan Ruang Publik, Kolaborasi Seni dan UMKM Perkuat IPK Sulbar Perbesar

POLEWALI MANDAR, SuaraMandar.com – Suasana Boyang Kayyang di kawasan Buttu Ciping, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, berubah menjadi ruang perjumpaan bagi seniman, budayawan, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam Festival Seni Ruang Publik (FSRP) Boyang Kayyang, Jumat (24/7/2026).

Festival yang digelar Komunitas Budaya Sossorang di kawasan UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat itu mengusung tema “Daya Ruang”, dengan menghadirkan ruang publik sebagai wadah interaksi, kolaborasi, sekaligus penguatan budaya dan ekonomi kreatif.

Pembukaan festival dilakukan secara simbolis oleh Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati. Prosesi pembukaan ditandai dengan menghentakkan sarung sutra Mandar sebanyak tiga kali sebagai simbol dimulainya rangkaian Festival Seni Ruang Publik Boyang Kayyang. Tradisi tersebut menjadi penanda semangat dalam menghidupkan ruang publik melalui seni, budaya, dan kolaborasi masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, bersama para seniman, budayawan Mandar, pegiat komunitas, pelaku UMKM, serta masyarakat yang menikmati berbagai pertunjukan seni.
Tema “Daya Ruang” menjadi pijakan utama festival. Ruang publik tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat berkumpul, melainkan ruang yang mampu menghadirkan percakapan, kolaborasi, dan pengalaman budaya. Melalui pendekatan itu, seni dibawa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut diperkuat melalui subtema “Respon”, yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga bagian dari proses berkesenian. Setiap pertunjukan diharapkan mampu memantik tanggapan, emosi, dan refleksi publik, sesuai filosofi yang diusung, yakni “seni melempar, publik menangkap.”

Selama festival berlangsung, pengunjung disuguhi beragam pertunjukan, mulai dari musik, tari, teater, performance art, pembacaan puisi, hingga seni tradisional dan kontemporer. Pameran seni rupa dan instalasi turut menghadirkan pengalaman visual di ruang terbuka. Selain itu, festival juga diisi workshop, diskusi, dan talkshow sebagai ruang bertukar gagasan antara seniman dan masyarakat.

Tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, festival ini juga melibatkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memamerkan sekaligus memasarkan produk mereka. Kehadiran UMKM diharapkan mampu menggerakkan ekonomi kreatif dan memperluas manfaat penyelenggaraan festival bagi masyarakat.

Ketua Panitia Festival, Dalif, mengatakan Boyang Kayyang dipilih karena memiliki karakter ruang yang terbuka dan dekat dengan masyarakat. Menurutnya, festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan seni, budaya, dan ekonomi kreatif dalam satu wadah.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga ikut merasakan, berdialog, dan memberi respons terhadap setiap karya yang ditampilkan. Di sisi lain, kami juga melibatkan pelaku UMKM agar festival ini memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Ini menjadi bagian dari dukungan terhadap program Gubernur Sulawesi Barat dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) melalui penguatan ekosistem seni, budaya, dan ekonomi kreatif,” ujar Dalif.

Sementara itu, Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Seni Ruang Publik Boyang Kayyang yang diinisiasi Komunitas Budaya Sossorang. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi contoh nyata kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam menghidupkan ruang publik melalui seni dan budaya.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Komunitas Budaya Sossorang yang terus konsisten menghadirkan ruang ekspresi bagi para seniman sekaligus melibatkan masyarakat. Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkuat ekosistem kebudayaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) di Sulawesi Barat. Semakin banyak ruang budaya yang hidup, semakin besar pula kontribusinya terhadap kemajuan kebudayaan daerah,” kata Irma.

Melalui Festival Seni Ruang Publik Boyang Kayyang, Komunitas Budaya Sossorang berharap seni tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif. Sebaliknya, seni dihadirkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, sekaligus menjadi ikhtiar bersama untuk merawat, mengembangkan, dan mempromosikan kekayaan budaya Sulawesi Barat.

Facebook Comments Box

Read More

Sekprov Junda Maulana Buka Pelatihan, Sulbar Bersiap Terapkan Katalog Versi 6

18 August 2026 - 17:55 WIT

Kafilah MTQ KORPRI Sulbar Siap Berlaga di Makassar, Enam ASN Wakili Enam Cabang

18 August 2026 - 12:49 WIT

Gubernur Sulbar Apresiasi Penampilan Paskibraka, Penghargaan Diarahkan untuk Penguatan Wawasan Kebangsaan

18 August 2026 - 12:45 WIT

Berkah HUT RI ke-81, Bupati Polman Resmikan Rumah Nahni yang Dibedah dalam 14 Hari

17 August 2026 - 20:36 WIT

Bupati Polman Serahkan Bantuan ATENSI Rp2,4 Juta kepada Penyandang Disabilitas yang Hidup Seorang Diri

17 August 2026 - 20:31 WIT

Trending on Advertorial