Menu ✖

Dark Mode
Wagub Sulbar Kunjungi Arif, Remaja Kalukku yang Berjuang Melawan Tumor Gubernur Suhardi Duka Harap Media Siber Bantu Masyarakat Pilah Informasi dan Tangkal Hoaks Gubernur Suhardi Duka Terima Manager PLN UP2K Sulbar, Bahas Percepatan Lisdes dan Peningkatan Elektrifikasi Sulbar Pemprov Sulbar Launching SIPAINGARANG, Kerja Humas OPD Kini Tak Sekadar Posting Berita HMI Mamuju Demo SPBU Simbuang, Soroti Dugaan Penyalahgunaan Solar Subsidi 232 Pejabat Polman Dimutasi, Bupati Samsul: Jangan Hanya Duduk di Kursi Dingin Junda Maulana Uji Calon Dekan Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unsulbar dengan Isu Hilirisasi hingga Deforestasi

Daerah

Festival Seni Boyang Kayyang Hidupkan Ruang Publik, Kolaborasi Seni dan UMKM Perkuat IPK Sulbar

badge-check


					Festival Seni Boyang Kayyang Hidupkan Ruang Publik, Kolaborasi Seni dan UMKM Perkuat IPK Sulbar Perbesar

POLEWALI MANDAR, SuaraMandar.com – Suasana Boyang Kayyang di kawasan Buttu Ciping, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, berubah menjadi ruang perjumpaan bagi seniman, budayawan, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam Festival Seni Ruang Publik (FSRP) Boyang Kayyang, Jumat (24/7/2026).

Festival yang digelar Komunitas Budaya Sossorang di kawasan UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat itu mengusung tema “Daya Ruang”, dengan menghadirkan ruang publik sebagai wadah interaksi, kolaborasi, sekaligus penguatan budaya dan ekonomi kreatif.

Example 728x250

Pembukaan festival dilakukan secara simbolis oleh Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati. Prosesi pembukaan ditandai dengan menghentakkan sarung sutra Mandar sebanyak tiga kali sebagai simbol dimulainya rangkaian Festival Seni Ruang Publik Boyang Kayyang. Tradisi tersebut menjadi penanda semangat dalam menghidupkan ruang publik melalui seni, budaya, dan kolaborasi masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, bersama para seniman, budayawan Mandar, pegiat komunitas, pelaku UMKM, serta masyarakat yang menikmati berbagai pertunjukan seni.
Tema “Daya Ruang” menjadi pijakan utama festival. Ruang publik tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat berkumpul, melainkan ruang yang mampu menghadirkan percakapan, kolaborasi, dan pengalaman budaya. Melalui pendekatan itu, seni dibawa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut diperkuat melalui subtema “Respon”, yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga bagian dari proses berkesenian. Setiap pertunjukan diharapkan mampu memantik tanggapan, emosi, dan refleksi publik, sesuai filosofi yang diusung, yakni “seni melempar, publik menangkap.”

Selama festival berlangsung, pengunjung disuguhi beragam pertunjukan, mulai dari musik, tari, teater, performance art, pembacaan puisi, hingga seni tradisional dan kontemporer. Pameran seni rupa dan instalasi turut menghadirkan pengalaman visual di ruang terbuka. Selain itu, festival juga diisi workshop, diskusi, dan talkshow sebagai ruang bertukar gagasan antara seniman dan masyarakat.

Tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, festival ini juga melibatkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memamerkan sekaligus memasarkan produk mereka. Kehadiran UMKM diharapkan mampu menggerakkan ekonomi kreatif dan memperluas manfaat penyelenggaraan festival bagi masyarakat.

Ketua Panitia Festival, Dalif, mengatakan Boyang Kayyang dipilih karena memiliki karakter ruang yang terbuka dan dekat dengan masyarakat. Menurutnya, festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan seni, budaya, dan ekonomi kreatif dalam satu wadah.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga ikut merasakan, berdialog, dan memberi respons terhadap setiap karya yang ditampilkan. Di sisi lain, kami juga melibatkan pelaku UMKM agar festival ini memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Ini menjadi bagian dari dukungan terhadap program Gubernur Sulawesi Barat dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) melalui penguatan ekosistem seni, budaya, dan ekonomi kreatif,” ujar Dalif.

Sementara itu, Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Seni Ruang Publik Boyang Kayyang yang diinisiasi Komunitas Budaya Sossorang. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi contoh nyata kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam menghidupkan ruang publik melalui seni dan budaya.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Komunitas Budaya Sossorang yang terus konsisten menghadirkan ruang ekspresi bagi para seniman sekaligus melibatkan masyarakat. Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkuat ekosistem kebudayaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) di Sulawesi Barat. Semakin banyak ruang budaya yang hidup, semakin besar pula kontribusinya terhadap kemajuan kebudayaan daerah,” kata Irma.

Melalui Festival Seni Ruang Publik Boyang Kayyang, Komunitas Budaya Sossorang berharap seni tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif. Sebaliknya, seni dihadirkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, sekaligus menjadi ikhtiar bersama untuk merawat, mengembangkan, dan mempromosikan kekayaan budaya Sulawesi Barat.

Facebook Comments Box

Read More

Gubernur Suhardi Duka Harap Media Siber Bantu Masyarakat Pilah Informasi dan Tangkal Hoaks

9 October 2026 - 09:18 WIT

Gubernur Suhardi Duka Terima Manager PLN UP2K Sulbar, Bahas Percepatan Lisdes dan Peningkatan Elektrifikasi Sulbar

9 October 2026 - 09:13 WIT

Pemprov Sulbar Launching SIPAINGARANG, Kerja Humas OPD Kini Tak Sekadar Posting Berita

9 October 2026 - 06:03 WIT

HMI Mamuju Demo SPBU Simbuang, Soroti Dugaan Penyalahgunaan Solar Subsidi

8 October 2026 - 21:17 WIT

232 Pejabat Polman Dimutasi, Bupati Samsul: Jangan Hanya Duduk di Kursi Dingin

8 October 2026 - 10:12 WIT

Trending on Advertorial