Menu

Dark Mode
Wagub Sulbar Kunjungi Arif, Remaja Kalukku yang Berjuang Melawan Tumor Suhardi Duka Motivasi 1.476 Patriot Muda, Hasil Riset Diminta Jadi Dasar Kebijakan Transmigrasi Sambut Kunjungan Bappenas, Dinas Perkebunan Sulbar Survei Sentra Kakao di Pammulukang Festival Seni Boyang Kayyang Hidupkan Ruang Publik, Kolaborasi Seni dan UMKM Perkuat IPK Sulbar BRIN dan Pemprov Sulbar Sepakat Perkuat Sinergi, MoU Jadi Tahap Selanjutnya Bupati Polman Perjuangkan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Jalan Kawasan Tertinggal Melalui Forum Strategis KPPD Kemendagri Langkah Nyata SDK untuk Nelayan: Tambak Rakyat 400 Ha Direvitalisasi, 50 Desa Pedalaman Dapat Tambak Air Tawar

Advertorial

2 Bocah di Lagi-Agi Lumpuh, Hidup Terbatas dan Menanti Uluran Tangan

badge-check


					2 Bocah di Lagi-Agi Lumpuh, Hidup Terbatas dan Menanti Uluran Tangan Perbesar

CAMPALAGIAN — Dua bocah bersaudara di Desa Lagi-agi, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, hidup dalam kondisi memprihatinkan. Keduanya mengalami kelumpuhan sejak dua tahun terakhir hingga tak lagi mampu beraktivitas layaknya anak-anak seusianya, Kamis (29/01/2026).

Di rumah panggung berukuran 2 x 3 meter yang menjadi tempat tinggal mereka, dua bocah bernama Nur Madina (8) dan Fadlan (5) kini hanya bisa terbaring di atas kasur tipis. Otot kaki mereka semakin melemah, membuat keduanya mustahil berdiri, apalagi berjalan.

Sang ibu, Sumiati, menuturkan bahwa kelumpuhan awalnya dialami oleh anak sulungnya saat berusia lima tahun, dan tak lama kemudian sang adik menyusul mengalami kondisi yang sama. Ia mengaku telah membawa kedua anaknya ke rumah sakit untuk pemeriksaan.

Menurut keterangan dokter, penyakit yang diderita anak-anaknya diduga merupakan penyakit keturunan. Namun, keterbatasan biaya membuat pengobatan tidak bisa dilanjutkan.

“Kami sudah bawa ke rumah sakit, tapi katanya penyakit keturunan. Saya juga tidak punya biaya untuk berobat lebih jauh, jadi terpaksa kami pulangkan,” ujar Sumiati.

Keterbatasan ekonomi menjadi hambatan terbesar keluarga ini. Suaminya hanya bekerja sebagai buruh pembuat batu bata, dengan penghasilan yang tidak menentu.

Kondisi tersebut membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terlebih biaya perawatan medis yang dibutuhkan kedua anaknya.

Kelumpuhan ini juga memaksa kedua bocah tersebut berhenti sekolah. Hari-hari yang dulu diisi belajar dan bermain kini berubah menjadi rutinitas terbaring di dalam rumah, tanpa kesempatan menikmati masa kecil mereka.

Sumiati berharap ada uluran tangan pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, maupun para dermawan untuk membantu pengobatan kedua anaknya. Ia hanya ingin melihat kedua anaknya dapat bermain dengan teman seusianya, dan mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.

Facebook Comments Box

Read More

Suhardi Duka Motivasi 1.476 Patriot Muda, Hasil Riset Diminta Jadi Dasar Kebijakan Transmigrasi

27 July 2026 - 14:45 WIT

Sambut Kunjungan Bappenas, Dinas Perkebunan Sulbar Survei Sentra Kakao di Pammulukang

26 July 2026 - 21:08 WIT

Festival Seni Boyang Kayyang Hidupkan Ruang Publik, Kolaborasi Seni dan UMKM Perkuat IPK Sulbar

25 July 2026 - 21:55 WIT

BRIN dan Pemprov Sulbar Sepakat Perkuat Sinergi, MoU Jadi Tahap Selanjutnya

25 July 2026 - 10:56 WIT

Bupati Polman Perjuangkan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Jalan Kawasan Tertinggal Melalui Forum Strategis KPPD Kemendagri

24 July 2026 - 08:13 WIT

Trending on Advertorial