Menu ✖

Dark Mode
Wagub Sulbar Kunjungi Arif, Remaja Kalukku yang Berjuang Melawan Tumor Empat Bulan Kekurangan Air Bersih, BPBD Polman Salurkan Bantuan ke Ponpes Salafiyah Parappe Gubernur Sulbar: Kuatnya Pramuka Jadi Wadah Cetak SDM Berkarakter Pejuang Muda Mandar untuk Panca Daya Hadiri Pembukaan Karate Piala Panglima TNI, Gubernur SDK: Anak Muda Harus Punya Nilai Juang Tinggi di Tengah Persaingan Global Malam Kenal Pamit Kapolda Sulbar, Gubernur Suhardi Duka: Peran Polisi Sangat Tinggi Sukseskan Pembangunan, Perlu Sinergi Kuat Gubernur Suhardi Duka Harap Media Siber Bantu Masyarakat Pilah Informasi dan Tangkal Hoaks Gubernur Suhardi Duka Terima Manager PLN UP2K Sulbar, Bahas Percepatan Lisdes dan Peningkatan Elektrifikasi Sulbar

Advertorial

2 Bocah di Lagi-Agi Lumpuh, Hidup Terbatas dan Menanti Uluran Tangan

badge-check


					2 Bocah di Lagi-Agi Lumpuh, Hidup Terbatas dan Menanti Uluran Tangan Perbesar

CAMPALAGIAN — Dua bocah bersaudara di Desa Lagi-agi, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, hidup dalam kondisi memprihatinkan. Keduanya mengalami kelumpuhan sejak dua tahun terakhir hingga tak lagi mampu beraktivitas layaknya anak-anak seusianya, Kamis (29/01/2026).

Di rumah panggung berukuran 2 x 3 meter yang menjadi tempat tinggal mereka, dua bocah bernama Nur Madina (8) dan Fadlan (5) kini hanya bisa terbaring di atas kasur tipis. Otot kaki mereka semakin melemah, membuat keduanya mustahil berdiri, apalagi berjalan.

Example 728x250

Sang ibu, Sumiati, menuturkan bahwa kelumpuhan awalnya dialami oleh anak sulungnya saat berusia lima tahun, dan tak lama kemudian sang adik menyusul mengalami kondisi yang sama. Ia mengaku telah membawa kedua anaknya ke rumah sakit untuk pemeriksaan.

Menurut keterangan dokter, penyakit yang diderita anak-anaknya diduga merupakan penyakit keturunan. Namun, keterbatasan biaya membuat pengobatan tidak bisa dilanjutkan.

“Kami sudah bawa ke rumah sakit, tapi katanya penyakit keturunan. Saya juga tidak punya biaya untuk berobat lebih jauh, jadi terpaksa kami pulangkan,” ujar Sumiati.

Keterbatasan ekonomi menjadi hambatan terbesar keluarga ini. Suaminya hanya bekerja sebagai buruh pembuat batu bata, dengan penghasilan yang tidak menentu.

Kondisi tersebut membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terlebih biaya perawatan medis yang dibutuhkan kedua anaknya.

Kelumpuhan ini juga memaksa kedua bocah tersebut berhenti sekolah. Hari-hari yang dulu diisi belajar dan bermain kini berubah menjadi rutinitas terbaring di dalam rumah, tanpa kesempatan menikmati masa kecil mereka.

Sumiati berharap ada uluran tangan pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, maupun para dermawan untuk membantu pengobatan kedua anaknya. Ia hanya ingin melihat kedua anaknya dapat bermain dengan teman seusianya, dan mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.

Facebook Comments Box

Read More

Empat Bulan Kekurangan Air Bersih, BPBD Polman Salurkan Bantuan ke Ponpes Salafiyah Parappe

10 October 2026 - 11:21 WIT

Gubernur Sulbar: Kuatnya Pramuka Jadi Wadah Cetak SDM Berkarakter Pejuang Muda Mandar untuk Panca Daya

10 October 2026 - 09:22 WIT

Hadiri Pembukaan Karate Piala Panglima TNI, Gubernur SDK: Anak Muda Harus Punya Nilai Juang Tinggi di Tengah Persaingan Global

10 October 2026 - 09:18 WIT

Malam Kenal Pamit Kapolda Sulbar, Gubernur Suhardi Duka: Peran Polisi Sangat Tinggi Sukseskan Pembangunan, Perlu Sinergi Kuat

10 October 2026 - 09:15 WIT

Gubernur Suhardi Duka Harap Media Siber Bantu Masyarakat Pilah Informasi dan Tangkal Hoaks

9 October 2026 - 09:18 WIT

Trending on Advertorial